You Are Communicate What You Are...
Suatu saat Anda berada di rumah
ibadat. Di mimbar berdiri seseorang yg mengkhotbahkan pentingnya
memelihara kebersihan moral & menjauhi perbuatan dosa. Yg
berkhotbah memakai jeans lusuh, berambut gondrong & kusut, memakai
kalung hitam dg gantungan tengkorak kecil, & berjaket hitam +
atribut :) . Anda dapat melihat "akar bahar" menghias tangannya yg
kekar. Ia mengutip Ayat-ayat Suci dg serius.
Dugaan saya, Anda tidak akan mempercayai omongannya. Anda akan
menganggapnya sebagai orang yg gila & tersesat masuk rumah ibadat
:P .
Pada saat yg lain, seorang bidan menganjurkan istri Anda untuk
menggunakan susu bubuk "Nestle" untuk anak kesayangan Anda. Ia membawa
contoh susu bubuk itu ke rumah Anda. Ia menjelaskan bahwa susu ini
dibuat mirip dg susu ibu, dg kadar protein tinggi, mengandung vitamin
& mineral yg berguna bagi pertumbuhan bayi Anda. Ia datang ke rumah
Anda, dg menggunakan baju suster putih, dan Anda samar2 mencium "bau"
RS.
Besar dugaan saya, Anda akan menerima–atau–paling tidak memikirkan
anjurannya [tdk terbayang pd benak Anda, bahwa perusahaan multinasional
tengah "membunuhi" bayi-bayi di negara dunia ketiga melalui
tenaga-tenaga paramedis] :D
Kedua contoh diatas menunjukkan bahwa ketika sang komunikator
berkomunikasi, yg berpengaruh bukan saja apa yg ia katakan, tetapi juga
keadaan ia sendiri..."he doesn't communicate what he says, he
communicate what he is"... ia tdk dapat menyuruh pendengar hanya
memperhatikan apa yg ia katakan. Pendengar juga akan memperhatikan
"siapa" yg mengatakan, kadang2 "siapa" lebih penting drpd "apa". Fatwa
keagamaan dari seorang kiai, petunjuk kesehatan dari dokter, penjelasan
perkembangan mode dari seorang perancang, atau uraian teknik belajar
dari seorang psikolog akan lebih kita dengar drpd yg dikemukakan org
lain. Sebaliknya, kita sukar mempercayai petunjuk bertani dari pemusik,
bimbingan penggunaan alat kosmetik dari ahli matematika, atau cara
ber-rumahtangga dari seorang pelajar SMA... ;)